RUMAH MODEL ANTI PEMANASAN GLOBAL (STEM PRODUCT)

RUMAH MODEL ANTI PEMANASAN GLOBAL

 Oleh:

Wiwin Sriwulan, S.Pd. M.I.L / wiwin_sriwulan@yahoo.com

Rika Siti Jahara, S.Pd. / rikajahara1727@gmail.com

Latar Belakang Masalah

Isu lingkungan menjadi isu yang belakangan sering menjadi perbincangan. Salah satunya isu pemanasan global. Pemanasan global (global warming) adalah suatu peristiwa meningkatnya suhu di bagian atmosfer, daratan, dan lautan. Dengan peningkatan suhu bumi secara terus menerus jelas akan menimbulkan efek yang merusak untuk lingkungan. Berikut contoh dampak dari peristiwa pemanasan global, diantaranya.

  1. Perubahan cuaca ekstrem seperti yang dialami Indonesia. Dalam keadaan normal, musim kemarau biasanya terjadi antara bulan Mei sampai September dan musim hujan biasanya terjadi dari bulan Oktober sampai April. Perubahan musim di Indonesia sekarang ini sudah tidak bisa diprediksi seperti dulu. Bahkan, di tahun 2019 ini hujan sudah jarang turun. Cuaca terasa semakin panas. Daerah yang biasanya rata-rata dingin sekarang berubah menjadi panas. Hal ini ditegaskan oleh Philipe Huguen (2019) bahwa “laporan perubahan cuaca dan pemanasan globalPBB mengungkapkan 2019 menjadi tahun terpanas dalam periode lima tahun terakhir. Dalam laporan PBB tersebut menuliskan rata-rata suhu global pada 2015–2019 berada dalam jalur ‘terpanas’.
  2. Mencairnya es di kutub.
  3. Punahnya beberapa jenis makhluk hidup
  4. Menurunnya hasil pertanian
  5. Naiknya suhu air laut yang menyebabkan matinya terumbu karang, dll.

Berdasarkan pemaparan di atas, jika hal seperti ini dibiarkan terus menerus dan berlanjut maka akan menimbulkan dampak yang lebih serius lagi bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup yang lainnya. Bencana-bencana yang telah terjadi sangat berkaitan dengan perubahan iklim dunia. Seperti yang dijelaskan oleh Wahono dkk (2016:69) bahwa “perubahan iklim terjadi karena adanya perubahan lingkungan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perubahan lingkungan terjadi sebagai akibat dari aktivitas manusia”. Maka, manusia harus bisa bertanggung jawab atas hal yang telah diperbuatnya. Jika tidak ada solusi, bencana besar yang ditakutkan bisa terjadi menimpa generasi-generasi berikutnya.

Untuk bisa menanggulangi terjadinya pemanasan global maka harus dipahami tentang penyebabnya. Pemanasan global secara umum terjadi karena meningkatnya gas-gas rumah kaca seperti CH4, CO2, H2O2, SF6, N2O, dll. Negara Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki luas hutan 128 hektar pada tahun 2015. Dengan luas hutan sebesar itu maka Indonesia disebut sebagai salah satu paru-paru dunia. Dengan banyaknya pohon atau tanaman yang ada di hutan tersebut maka emisi gas-gas rumah kaca akan berkurang atau menurun contohnya gas karbon dioksida (CO2). Namun sayangnya, luas hutan di Indonesia semakin berkurang setiap tahunnya. Pada tahun 2018, luas hutan di Indonesia menjadi 125,9 hektare. Pengurangan luas hutan tersebut disebabkan oleh adanya pembalakan liar, perluasan area perkebunan sawit, dan kebakaran hutan. Sehingga upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi tersendat.

Dengan menyajikan isu lingkungan seperti ini, perlu adanya proses pembelajaran yang diharapkan dapat menstimulasi peserta didik agar lebih peka dan mau berfikir untuk menemukan cara mengatasi bahkan menemukan solusi dari masalah yang terjadi di lingkungannya. Peserta didik harus terlatih untuk mengembangkan keterampilan abad 21 seperti keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif, berkomunikasi, dan berkolaborasi yang diterapkan pada proses pembelajaran ataupun diluar pembelajaran. Tantangan abad 21 ditandai dengan derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi. Berbagai informasi dan pengetahuan baru bukan hal yang sulit untuk diperoleh pada era ini. Individu yang memiliki kemampuan mendapat, mengolah, dan menginterpretasikan berbagai informasi dan pengetahuan akan mampu beradaptasi dan berhasil dalam menjawab tantangan di masyarakat global.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat melatih keterampilan abad 21 adalah pendekatan pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering dan Math). Melalui pembelajaran STEM peserta didik dirangsang untuk berfikir kritis, kreatif, dan inovatif. Pembelajaran STEM menunjukkan bagaimana konsep, prinsip, teknik sains, teknologi dan matematika digunakan secara terintregrasi untuk mengembangkan produk, proses, dan sistem yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Selain itu, pembelajaran STEM dapat mengembangkan kemampuan kerja sama, memecahkan masalah, kreativitas dan inovatif, serta memiliki keinginan untuk terlibat dalam kajian isu-isu terkait STEM (misalnya efisiensi energi, kualitas lingkungan, keterbatasan sumberdaya alam) sebagai warga negara yang konstruktif, peduli, serta reflektif dengan menggunakan gagasan-gagasan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (Bybee, 2013: https://www.scribd.com/document/391164211/HO-Filosofi-STEM, dalam Nurhuda, diakses tanggal 13 Desember 2019)

Pada proses pembelajaran ini, peserta didik diminta untuk menciptakan rumah model antipemanasan global sebagai salah satu solusi untuk menangani permasalahan yang ditimbulkannya. Pada proses pembelajaran diterapkan pendekatan pembelajaran STEM dengan model pembelajaran PJBL (Project Based Learning) untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan menantang. Sehingga diharapkan peserta didik dapat menjadi lebih kritis dan bijak dalam menanggapi isu lingkungan.

Selengkapnya silakan download karya tulis ini melalui link naskah implementasi STEM SMP LABS UPI 2019

 

Tinggalkan Balasan