Fakta-Fakta Seputar Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang merupakan lanjutan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dikembangkan pada tahun 2004 lalu, yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu. Pemberlakuan kurikulum baru ini menurut pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersifat urgen dan harus dilaksanakan secepatnya di tahun ajaran baru.

Disadari atau tidak, implementasi Kurikulum 2013 merupakan kerja besar. Betapa tidak, pada tahun ajaran baru, pertengahan Juli 2014 implementasi Kurikulum 2013 melibatkan seluruh sekolah di Tanah Air dengan jumlah sasaran 206.799 sekolah, terdiri atas SD/SDLB 148.171 sekolah; SMP/SMPLB 35.597; SMA/SMLB12.403; dan SMK 10.628 sekolah.

Dari sekolah sasaran tersebut akan melibatkan 31.244.844 siswa. Jumlah siswa itu terdiri dari siswa SD/SDLB (kelas 1,2,4,5) sebanyak 17.640.917; Siswa SMP/ SMPLB (kelas VII dan VIII) sejumlah 7.107.950; siswa SMA/SMLB (kelas 10 dan 11) berjumlah 3.468.510; dan siswa SMK (kelas 10 dan 11) sebanyak 3.027. 467.

Selain dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat, implementasi Kurikulum 2013 juga melibatkan guru dalam jumlah yang begitu besar. Ada 1.425.001 guru (SD 783.935; SMP 415.980; SMA 139.398; dan SMK 85.688) yang akan berpartisipasi dalam melaksanakan Kurikulum 2013.m.

Pengetahuan Ilmiah

Kurikulum 2013 ini sangat unik, karena memasukkan atau mencantumkan agama ke dalam dokumen kurikulum. Menurut Asvi Marwan Adam (Koran Tempo, 8 Juli 2013), “Tidak ada masalah bila kompetensi ‘menghayati dan mengamalkan ajaran agama’ itu diberlakukan khusus untuk mata pelajaran agama.” Ungkapan senada disampaikan anggota Goenawan Mohamad (Tempo, 3 Juni 2013). Dikatakannya, “beberapa perumusan dalam dokumen ini memberi kesan keagamaan yang berlebihan.” Saya sepakat. Tetapi jika hanya kesan semata, tentu tak masalah. Yang runyam adalah penjaminan ketaatan logika dalam metode pembelajaran serta keterselenggaraan hakikat keilmiahan dalam kurikulum ini.

Memasukkan unsur agama ke dalam dokumen ilmu pengetahuan alam, aljabar, geometri, statistika, dan yang lainnya berdampak luas pada metode pembelajaran serta penilaian. Sebagai contoh, coba cermati Kompetensi Dasar (KD) pada kurikulum Kimia dalam Salinan Lampiran Permendikbud No. 69 th 2013 tentang Kurikulum SMA-MA, hal. 165, berikut:

“Menyadari adanya keteraturan struktur partikel materi sebagai wujud kebesaran Tuhan YME dan pengetahuan tentang struktur partikel materi sebagai hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentatif.”

Tentu saja sangat mungkin seorang siswa sudah menyadari kebesaran Tuhan YME bahkan sebelum ikut pelajaran, seperti di KD tadi. Apakah kemudian siswa tersebut langsung dinyatakan menguasai KD itu? Masalah lainnya, KD di atas dapat dikuasai siswa dengan menggunakan common sense semata. KD ini obvious. Tanpa belajar formal satu semester pun seorang siswa paham bahwa dia diharapkan menjawab hal-hal bagus yang diharapkan oleh lingkungannya, walau mungkin dia sama sekali belum memahami atau meresapinya.

Ditambah lagi, pengetahuan ilmiah sejatinya selalu berawal dengan pertanyaan. Jawaban dicari setelah pertanyaan terumus baik. Tetapi pada KD di atas, jawaban sudah ada, bahkan sebelum ada pertanyaan. Kebesaran Tuhan YME tentu jawaban yang mujarab untuk rangkaian pertanyaan siapa yang sanggup menciptakan sifat hidrokarbon, termokimia, atau lainnya. Ini jauh dari hakikat pengetahuan ilmiah. Saya mendukung pendapat anggota Tim Narasumber lain, Achmad Muchlis, bahwa KI tentang agama dan moral sebaiknya dituliskan di bagian awal dokumen saja, tak perlu dimatrikskan.

Yang perlu direnungkan lagi adalah kemungkinan dampaknya pada budaya berpikir kritis. Setelah ada kata-kata Tuhan serta Agama, maka dokumen Kurikulum 13 ini menjadi dokumen “sakral”. Banyak akademisi dan pendidik yang segan memperkarakan atau mengkritisinya.

Hikmah dan Harapan

Isu Kurikulum 2013 ini membawa hikmah pula. Pada awal gagasan Kurikulum 2013 ini digulirkan di sekitar penghujung akhir tahun 2012, banyak pendidik dan pegiat mengingatkan bahwa pengembangan profesi guru lebih utama ketimbang kurikulum baru. Sekarang, setelah Kurikulum 2013 ini diterapkan secara terbatas, kebanyakan birokrat pendidikan menyadari bahwa memang mutu dan jumlah guru serta penyebarannya merupakan kunci utama. Pengembangan kepakaran guru dalam pemahaman keilmuan yang dibelajarkan serta metode dan gairah membelajarkannya adalah unsur-unsur utama dalam pendidikan kita.

Semoga pemerintah mendatang lebih taat kelola kala mengembangkan kurikulum. Kemudian, Pemerintah mendatang sebaiknya merekacipta strategi rinci serta terprogram jelas guna meningkatkan mutu dan penyebaran guru. Tak lupa direkacipta sebuah kerangka utuh pemanfaatan teknologi digital guna penyebaran layanan pembelajaran bermutu ke seluruh penjuru Republik.

Dari berbagai sumber**